Selasa, 17 Januari 2017

BAB I
PENDAHULUAN



1.      LATAR BELAKANG

      Kemuliaan dan keutamaan manusia di bandingkan dengan makhluk lainya ialan manusia memiliki hati dan akal, dengan pertolongan nya  manusia dapat mengenal Allah atau memperoleh ilmu tentang Allah beserta sifat-sifat-Nya. Dengan sarana hatilah manusia dapat mendekati Allah dan meraih derajat kedekatan dengan-Nya serta melakukan usaha untuk mengetahui dan menyadari keberadaan-Nya.
      Hati diibaratkan raja, sedang anggota badan adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula urusan para prajuritnya. Bila buruk, maka demikian pula urusan para prajuritnya. Oleh sebab itu, dalam Islam amalan hati memiliki kedudukan yang agung. Bisa dikatakan, pahala dari amalan hati lebih besar daripada amalan badan. Sebagaimana dosa hati lebih besar daripada dosa badan. Oleh karena itu kita dapati; dosa kufur dan kemunafikan lebih besar daripada dosa zina, riba, minum khamar, judi dst.
     Hati adalah standar kebaikan amalan badan. Ia ibarat pemimpin bagi badan. Baiknya hati akan berpengaruh pada baiknya amalan badan. Dan buruknya hati akan berpengaruh pada buruknya amalan badan. Dan hati yang beruntung ialah hati yang bersih dan suci karena senantiasa dibersihkan dan disucikan. Dan hati yang merugi ialah yang hati yang dibiarkan kotor dan rusak. Kita dapat mengatakan pula bahwa ilmu tentang hati adalah pokok dari ilmu tentang Allah atau ma’rifatullah. Dengan demikian,kita memahami mengapa dikatakan bahwa manusia tidak akan mengenal Tuhannya. Kebanyakan manusia tidak mengenal hati dan semua sifatnya karena ada selubung dan hijab yang menghalangi seseorang dengan hatinya. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla bergerak di antara hatinya, mengendalikan dan menguasai hati manusia beserta sifat-sifatnya. Hati manusia berada di sela-sela jari Allah Yang Maha Pengasih. Kadang-kadang hati manusia dapat jatuh hingga ke tingkat paling rendah setingkat dengan setan dan kadang-kadang terbang demikian tinggi mendekati singgasana Allah Yang Mahatinggi. Manusia yang tidak mengenal hatinya sendiri dapat di kelompokan dalam golongan orang-orang yang di firmankan oleh Allah Swt.  :


وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
19. dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.[1]
      Orang yang lupa kepda diri sendiri adalah orang yang melampaui batas. Oleh karena itu, mengenal hati sendiri dan sifat-sifatnya adalah penting sekali karena ilmu tentang hati dan sifat-sifatnya tersebut merupakan pokok agama.

2.      RUMUSAN MASALAH


1.      Apa pengertian dari Hati ?
2.      Jelaskan perspektif hati menurut dunia medis ?
3.      Jelaskan perspektif hati dalam kosep tasawuf ?

3.      TUJUAN

1.      Agar mengetahui pengertian hati
2.      Mengetahui hati dalam dunia medis.
3.      Mengetahui konsep hati menurut tasawuf.









BAB II
PEMBAHASAN


A.    PENGERTIAN HATI
    

    Qalb (Qolbu) memiliki dua makna. Makna yang pertama adalah sepotong daging atau segumpal daging atau segumpal darah yang terletak di dada sebelah kiri yang lazim disebut hati [maksudnya : jantung. Dalam bahasa inggris heart ada dua makna yaitu : hati dan jantung.] dimana di bagian dalamnya terdapat ruang. Ruang itu penuh berisi darah berwarna merah kehitaman dan merupakan sumber ruh atau kehidupan.[2] Hati adalah pusat atau sumber bagi peredaran darah.

     Makna yang kedua  adalah qalb adalah “jiwa”. Qalb adalah sesuatu yang imaterial yang tak berbentuk atau halus dan mempunyai hubungan dengan hati fisik –material ( atau jantung ). Ia dapat di bandingkan dengan energi listrik yang tak dapat di bandingkan dengan energi listrik yang terlihat. Hati dalam pengertian inilah yang disiksa atau di beri pahala. Hubungan hati dengan jantung ialah seperti hubungan antara sifat (‘aradh) dengan anggota tubunh (jisim), atau mesin dengan manusia yang memakainya, atau rumah dengan penghuninya, ada dua macam hubungan yang di maksud. Hubungan yang pertama adalah ilmu mukasyfah atau pengetahuan spritual. Hubungan yang kedua menuntut ilmu dengan rahasia.
       Firman Allah Ta’ala :

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً ۙ وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا ۙ وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ ۙ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْبَشَرِ
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.[3]
      Di dalam surah tersebut ada Allah berfirman adanya tentara hati, hakikat dari tentara hati itu tidaklah di ketahui dan tidak ada yang mengertahui jumlah kecuali dirinya sendiri. Hati mempunyai dua tentara. Satu tentara dapat dilihat dengan mata lahir dan tentara lainya tidak dapat dilihat dengan kecuali mata batin. Kedua jenis tentara ini diperlukan untuk menjaga wilayah kekuasaan rajanya yaitu hati. Demikian pula, tangan, kaki mata, telingah, lidah merupakan tentara hati yang lahiriah. Mereka diciptakan untuk menaati semua perintah hati. Ketika hati meminta membuka mata, maka mata akan melakukanya, kepatuhan dan ketundukan mereka seperti malaikat kepada Allah Swt. Malaikat diciptakan untuk taat kepada Allah dan mereka tidak akan mungkin melawanNya. Tentara-tentara ini diperlukan bagi hati karena perjalanan pemilik hati ( Manusia ) menuju Allah sebagaimana halnya kendaraan dan makanan yang di perlukan bagi tubuh. Hati melewati berbagai terminal, halte, atau stasiun ( maqam ) untuk bertemu dengan-Nya yang untuk itulah hati diciptakan. Allah Ta’alah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

           “Dan Aku tidak meciptakan jin dan manusia melaikan supaya mereka menyembah-Ku.”[4]
       Tubuh adalah kendaraan atau alat angkut bagi jiwa (hati). Adapun makanan jiwa adalah ilmu, pengetahuan. Agar hati memperoleh makanan yang baik, bahan-bahan yang diperlukan adalah amal saleh ( kebaikan dan kebajikan ). Tidak mungkin hati mencapai tujuan perjalanannya, yaitu bertemu Allah Swt, jika badan tidak tenang dan banyak melakukan dosa. Jadi, banyak lah melakukan amal saleh atau kebaikan dan ke bajikan di dunia, karena duni merupakan tempat bercocok tanam bagi akhirat dan salah satu tempat bgi petunjuk ilahi, atau kata lain “hidayah”.

B.     PERSPEKTIF HATI DALAM DUNIA MEDIS


PENGERTIAN DAN STRUKTUR HATI

   Hepar (hati) adalah kelenjar terbesar dalam tubuh dengan berat sekitar 1300-1550 gram dan berwarna merah cokelat, mempunyai banyak pembuluh darah serta lunak. Hepar berbentuk baji dengan permukaan dasarnya pada sisi kanan dan puncaknya pada sisi kiri tubuh, terletak di kuadran kanan atas abdomen (hipokondria kanan). Permukaan atasnya berbatasan dengan diafragma dan batas bawahnya mengikuti pinggiran kosta kanan.[5]
Hepar terdiri dari:
Lobus kiri dan lobus kanan, dengan lobus kanan lebih besar dibandingkan dengan lobus kiri.
Lobulus. Hepar disusun oleh lobulus-lobulus kecil dan tersusun dalam kolom.
Vena sentralis pada bagian tengah tiap lobulus. Vena bergabung menjadi vena yang lebih besar dan membentuk vena hepatika yang kemudian menuju ke dalam vena kava inferior
Lakuna, yaitu ruangan yang memisahkan antara satu lobulus dengan lobulus lainnya.


FUNGSI HATI
1. Menawarkan racun
   Fungsi utama dari hati adalah menawarkan racun yang masuk ke dalam tubuh. Racun tersebut bisa berasal dari makanan, minuman, atau pun obat-obatan. Proses metabolisme di dalam tubuh akan menghasilkan asam laktat yang dapat merugikan, namun hati akan mengubahnya menjadi glikogen yaitu sejenis karbohidrat yang dapat digunakan sebagai sumber energi yang disimpan di dalam otot.
    Metabolisme protein juga akan menghasilkan zat sisa berupa amonia yang berbahaya bagi tubuh, namun hati akan mengubahnya menjadi urea dan dikeluarkan bersama urine.
2. Metabolisme karbohidrat
     Glukosa dan monosakarida lain seperti fruktosa dan galaktosa akan diubah menjadi glikogen. Glikogen adalah karbohidrat yang terbentuk dari ratusan unit glukosa yang terikat bersama.
Penyimpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen mempunyai keuntungan:
Cepat dipecah untuk menghasilkan energi
Produksi energinya tinggi
Tidak bocor ke dalam sel dan tidak mengganggu kandungan cairan intrasel
Pengubahan bentuk karbohidrat ini memerlukan bantuan dua hormon yaitu insulin dan glukagon yang dihasilkan oleh pankreas. Saat kadar glukosa dalam darah naik maka insulin akan dilepaskan untuk mengubah glukosa menjadi glikogen dan disimpan di hati dan jaringan otot. Saat kadar glukosa di dalam darah turun, maka glukagon akan dilepaskan untuk memecah glikogen yang disimpan menjadi glukosa dan kemudian akan dimetabolisme untuk menghasilkan energi.
3. Metabolisme protein

Beberapa asam amino diubah menjadi glukosa melalui proses glukoneogenesis. Asam amino yang tidak dibutuhkan oleh tubuh kemudian diubah menjadi urea dan asam urat yang dikeluarkan dari sel hati ke dalam darah untuk diekskresi oleh ginjal dan dibuang melalui urine.

4. Metabolisme lemak
    Ketika lemak dibutuhkan oleh tubuh, lemak akan diambil keluar dari tempat penyimpanannya di dalam tubuh, lalu diangkut melalui darah menuju ke hati dan dipecah menjadi asam lemak dan gliserol.
5. Sintesis kolesterol dan protein plasma
Hati dapat mensintesis kolesterol dan steroid serta produk protein plasma seperti fibrinogen, protrombin, dan sebagian besar globulin.
6. Penyimpanan berbagai zat
Hati adalah tempat penyimpanan glikogen, lemak, vitamin A, B12, D, dan K, serta zat besi.
7. Tempat pembentukan dan pembongkaran sel darah merah
Dalam 6 bulan kehidupan janin, hati menghasilkan sel darah merah, baru kemudian produksi sel darah merah ini secara berangsur-angsur diambil alih oleh sumsum tulang. Pada saat darah melewati hati, sekitar 3 juta sel darah merah dihancurkan setiap detik, dan hasil penghancurannya masih ada zat yang akan digunakan untuk membentuk sel darah merah yang baru.
8. Menghasilkan zat yang melarutkan lemak
Hati menghasilkan sekitar 0.5 – 1 liter cairan empedu setiap hari. Cairan empedu inilah yang akan melarutkan lemak yang terdapat di dalam usus.


C.    PERSPEKTIF HATI DALAM KONSEEP TASAWUF

            Makna Qalbu (hati) Dalam Pandangan Tasawuf
            Rasul Saw bersabda,’Ketahuilah, di dalam jasad ada segumpal daging(mudzghah) yang jika baik daging itu maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika jelek daging itu maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah daging itu adalah hati (qalb).’’ (HR. Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir).[6]
            Ungkapan Rasul Saw tentang segumpal daging fisik (mudzghah) di dalam dada manusia  yang dihubungkan dengan hati (qalb), sering diassumsikan secara kurang tepat dalam memaknai hati (qalb) yang diidentikkan sebagai organ fisik yang disebut hati  (mudzghah) tersebut. Sehingga kerusakan pada fisik hati (mudzghah) itu, ditafsirkan akan  berakibat kerusakan pada perilaku pemilik hati yang rusak tersebut.
            Dalam term sufisme makna al-qalbu (hati) lebih menunjuk kepada aspek ruhani, substansi halus, anasir bukan materi yang berfungsi mengenal segala sesuatu dan mampu merefleksikan sesuatu seperti cermin yang memantulkan sebuah gambar. Kemampuan qalb dalam merefleksikan suatu hakikat tergantung pada sifat qalb, sesuai pengaruh inderawi, syahwat, kemaksiatan, dan cinta. Sepanjang hati itu bersih dari kendala-kendala yang dapat menutupinya, maka hati dapat menangkap hakikat yang ada. Bahkan di qalb ma’rifat terjadi.
            Menurut At-Tirmidzi, qalb (hati) adalah pusat dari semua perasaan, pengenalan dan emosi di dalam diri manusia. Semua perasaan, pengenalan dan emosi manusia akan kembali ke qalb (hati) dan dari qalb (hati) dikirim kembali ke seluruh tubuh. Qalb (hati) bersifat otomatik, dapat menyerap segala bentuk emosi yang ada, dan apabila terbetik di dalamnya suatu aliran perasaan, secara langsung akan dipancarkan ke seluruh tubuh. Dengan pandangan At-Tirmidzi ini, hati dapat diibaratkan seperti istana. Jika yang memerintah istana adalah raja yang baik (ruh), maka akan baiklah semua perilaku si pemilik hati. Sebaliknya, jika yang berkuasa di istana adalah raja jahat (nafsu), maka akan rusaklah semua perilaku si pemilik hati.[7]
            Imam Al-Ghazali mengungkapkan makna qalb dengan gambaran metaforik sebagai sumur yang digali di tanah. Sumur itu bisa diisi lewat saluran pipa dari sungai atau saluran irigasi. Tidak jarang dalam mengisi sumur dilakukan penggalian lebih dalam sampai didapati sumber air di dalam tanah. Jika digali lebih dalam, akan memancar air yang lebih jernih, lebih deras dan tidak ada habisnya. Tidak ubahnya sumur, ungkap Al-Ghazali, air di dalamnya itulah ilmu pengetahuan.[8] Pancaindera ibarat saluran pipa atau  saluran irigasi, mengisi qalb dengan ilmu pengetahuan seibarat saluran pipa atau saluran irigasi mengisi sumur dengan air dari sungai di muka bumi. Qalb diisi ilmu pengetahuan lewat pancaindera melalui proses membaca, mendengar, merasakan, mengamati, meneliti. Sementara ada cara lain mengisi air ke dalam sumur, dengan menutup saluran pipa atau saluran irigasi. Lalu menggali qalb lebih dalam lewat uzlah, khalwat, mujahadah, muraqabah, musyahadah sampai terangkat tutup yang menyelubungi, sehingga memancar dari dalam qalb ilmu pengetahuan yang lebih bersih dan abadi, sebagaimana firman Allah:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
   “Sejatinya, (al-Qur’an)  itu merupakan tanda-tanda yang jelas di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”[9]
            “Inna fii jazadi al-mudzghah. Wa fii mudzghah qalb, wa fii qalb fuad, wa fii fuad ruh, wa fii ruh sirr, wa fii sirr akfa, wa fii akfa ana!” sabda Nabi Saw ini menunjukkan bahwa di dalam mudzghah terdapat tujuh lapisan anasir halus bukan materi  bersifat ruhaniah yang makin lama makin halus hingga ke pusat  anasir hati yaitu ana (aku). Seibarat istana dengan tujuh ruangan dari  yang zhahir sampai yang bathin yang dilingkari tujuh dinding, setiap ruangan memiliki pintu dan kunci yang berujung ke pusat ruangan paling batiniah di mana sang raja berada.  Adapun yang dimaksud tujuh ruangan di istana itu, dari luar ke dalam atau dari zhahir ke bathin, adalah:
Al-Mudzghah, dinding atau penutupnya adalah Al-Hijab  Al-Jamal (keindahan). Pintunya adalah Al-Bab Al-Hidayah. Kuncinya adalah Al-Miftah Al-Iqrar (pengakuan);
Al-Qalbu, dinding atau penutupnya adalah Al-Hijab Al-Jalal (kemuliaan). Pintunya adalah Al-Bab Al-Ra’fah (kesantunan). Kuncinya Al-Miftah At-Tauhid (peng-Esa-an);
Al-Fuad, dinding atau penutupnya adalah Al-Hijab As-Sulthan (kekuatan). Pintunya adalah Al-Bab Al-Jud (kemurahan). Kuncinya Al-Miftah Al-Iman;
Ar-Ruuh, dinding atau penutupnya adalah Al-Hijab Al-Ghaiban (kegaiban). Pintunya adalah Al-Bab Al-Majdu (kemuliaan). Kuncinya Al-Miftah Al-Islam;
Sirr, dinding atau penutupnya adalah Al-Hijab Al-Qudrah. Pintunya adalah Al-Bab Al-Atha’ (anugerah). Kuncinya Al-Miftah Al-Ikhsan;[10]
Akfa, dinding atau penutupnya adalah Al-Hijab Al-Adhamah (keagungan). Pintunya adalah Al-Bab Al-Rahbah (ketakutan). Kuncinya As-Shidqu (shiddiq);
Ana, dinding atau penutupnya adalah Al-Hijab Al-Haya’ (malu). Pintunya adalah Al-Bab Al-Athaf (kelembutan). Kuncinya Al-Ma’rifat.
         Untuk bisa masuk ke dalam tujuh ruangan – khususnya ruang ketujuh yang paling ghaib – disyaratkan perjuangan (jihad) ruhani yang tidak ringan. Berbagai laku ruhani seperti uzlah, mujahadah, muraqabah, musyahadah harus dilakukan sampai dapat melewati ketujuh pintu itu beserta kuncinya. Berbagai ujian, akan dialami oleh siapa saja yang ingin memasuki tujuh ruangan suci itu agar bisa bertemu Sang Maharaja Diraja Yang telah bersabda,”Waladziina jahadu fiina, lanahdiyanahum subulana!”   






                                                             BAB III
                                                           PENUTUP




A.    KESIMPULAN

       Hati adalah standar kebaikan amalan badan. Ia ibarat pemimpin bagi badan. Baiknya hati akan berpengaruh pada baiknya amalan badan. Dan buruknya hati akan berpengaruh pada buruknya amalan badan. Dan hati yang beruntung ialah hati yang bersih dan suci karena senantiasa dibersihkan dan disucikan. Dan hati yang merugi ialah yang hati yang dibiarkan kotor dan rusak. Kita dapat mengatakan pula bahwa ilmu tentang hati adalah pokok dari ilmu tentang Allah atau ma’rifatullah. Dengan demikian,kita memahami mengapa dikatakan bahwa manusia tidak akan mengenal Tuhannya. Kebanyakan manusia tidak mengenal hati dan semua sifatnya karena ada selubung dan hijab yang menghalangi seseorang dengan hatinya. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla bergerak di antara hatinya, mengendalikan dan menguasai hati manusia beserta sifat-sifatnya. Hati manusia berada di sela-sela jari Allah Yang Maha Pengasih. Kadang-kadang hati manusia dapat jatuh hingga ke tingkat paling rendah setingkat dengan setan dan kadang-kadang terbang demikian tinggi mendekati singgasana Allah Yang Mahatinggi



















B.     DAFTAR PUSAKA


Abdullah,amin, antara al Ghazali dan kant, bandung : mizan.2002

imam al-ghazzali,ihya ‘Ulumuddin. Jakarta: bulan pusaka. 2000

As-Siddiqie,hasbi. Kuliah ibadah, bulan bintang. Jakarta.1985
Lestari, Endang S. 2009. Biologi 2: Makhluk Hidup dan Lingkungannya untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional




[1] Qs al –Hasyr [50]: 19
[2]  imam al-ghazzali,ihya ‘Ulumuddin. Hlm 11
[3] Qs. Al-Muddatstsir [31]
[4] Qs ads-Dzariyat [56]
  1. [5] Lestari, Endang S. 2009. Biologi 2: Makhluk Hidup dan Lingkungannya untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Hlm. 50

[6] As-Siddiqie,hasbi. Kuliah ibadah, bulan bintang. Jakarta.1985. Hlm 252
[7] imam al-ghazzali,ihya ‘Ulumuddin. Hlm 20

[8] Abdullah,amin, antara al Ghazali dan kant, bandung : mizan.2002 Hlm 45
[9] Qs. Al-Ankabut [49]
[10] imam al-ghazzali,ihya ‘Ulumuddin. Hlm 34

Information For Teenager . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates